"Selisih suku bunga dalam negeri dan luar negeri berada pada level 6,22%"
Bank Indonesia mengungkapkan investasi dalam bentuk rupiah memberikan keuntungan tertinggi di Asia. Keuntungan Indonesia bahkan lebih tinggi dibanding Filipina, Malaysia, dan Korea.
Bank Indonesia mencatat indikator imbal hasil rupiah yang ditunjukkan oleh selisih suku bunga dalam negeri dan luar negeri (UIP-Uncovered Interest Parity) berada pada level 6,22%. Angka ini lebih tinggi dibanding kawasan Asia lainnya seperti Filipina di level sekitar 4 persen, Malaysia di level sekitar 2 persen, dan Korea di level sekitar 2,5 persen.
"Indonesia masih merupakan yang tertinggi dibandingkan negara kawasan Asia lainnya," tulis BI dalam Laporan Kebijakan Moneter Kuartal III/2010 yang baru saja dirilis.
Jika memperhitungkan membaiknya premi risiko, maka daya tarik investasi dalam rupiah semakin besar. Hal tersebut ditunjukkan oleh indikator CIP (Covered Interest Parity) yang berada dalam tren meningkat selama tahun 2010.
Pada akhir September 2010, indikator CIP berada pada level 4,44 persen, tetap merupakan yang tertinggi dibandingkan Korea, Filipina dan Malaysia. Filipina berada di level 2,81 persen, Malaysia di level 2,19 persen dan Korea 0,81 persen.
Apalagi, kepercayaan investor asing terus meningkat seiring dengan membaiknya persepsi terhadap risiko domestik serta ekspektasi akan tercapainya peringkat "investment grade" yang semakin kuat.
Karena itu, tidak mengherankan jika sejak awal tahun hingga akhir September, dana asing ramai-ramai menyerbu pasar Indonesia. Totalnya mencapai Rp115 triliun yang masuk ke berbagai instrumen investasi seperti obligasi negara, sertifikat Bank Indonesia dan bursa saham.
Bahkan, beberapa lembaga keuangan asing masih rekomendasikan agar mereka membenamkan duitnya di Indonesia. "Lupakan Brazil, saatnya membidik Indonesia," ujar Kepala Investasi Citigroup Private Bank untuk Asia, Debashish Dutta Gupta.
Menurut Rahmat Waluyanto, Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan , ada beberapa hal yang membuat investor asing tertarik menanam duitnya di Rupiah, baik dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia atau obligasi negara.
Pertama, menurut dia, prospek fundamental ekonomi Indonesia sangat bagus. Bankir dan pelaku pasar keuangan internasional memperkirakan peringkat utang luar negeri Indonesia akan menjadi investment grade atau peringkat investasi sebelum 2012. "Jadi persepsi mereka terhadap negara Indonesia menjadi lebih baik."
Itu terbukti dari CDS (credit default swap) atau premi asuransi yang dibeli investor obligasi untuk Indonesia dalam lima tahun ini sudah turun jauh menjadi di bawah 150 basis poin. Yield atau imbal hasil obligasi global Indonesia sudah jauh di bawah Philipina yang termasuk satu grup dengan Indonesia.
Kedua, kata dia, yield obligasi Indonesia lebih menarik dibandingkan yield obligasi Treasury/obligasi negara AS. Ini disebabkan lantaran bank sentral AS masih menahan suku bunga pada tingkat yang rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang dinilai masih lambat.
Ketiga, investor internasional masih mempunyai ekses/kelebihan likuiditas karena selama krisis global dan terakhir krisis utang zona Eropa. "Mereka masih menunda investasi portofolionya."
• VIVAnews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar