Jumat, 15 April 2011

Secercah Titik Terang dalam Tragedi Hillsborough Usai 22 Tahun

Sudah 22 tahun tragedi Hillsborough berlalu, para Liverpudlian masih merasakan duka mendalam bagi 96 korban meninggal. Tapi Manajer Liverpool Kenny Dalglish yakin para keluarga korban akan segera mendapatkan keadilan.

Tragedi Hillborough terjadi pada 15 April 1989 di hari pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool kontra Nottingham Forrest. Korban meninggal tercatat sebagai jumlah tertinggi dalam kecelakaan di stadion dalam sejarah Britania Raya.

Saat itu, pihak panitia pertandingan dan kepolisian dituding ceroboh dalam menghadapi luapan suporter yang tak tertampung di dalam stadion. Bahkan hingga saat ini, tidak ada yang bisa "dipersalahkan" dan dituntut pertanggungjawabannya atas 96 korban meninggal dan 766 korban luka.

Tragedi tersebut diperparah dengan pemberitaan kontroversial dari media Inggris, The Sun. Saat itu mereka menulis dengan 3 sub-judul yang kontroversial.

Pertama, para fans Liverpool yang selamat dituding mengutil barang-barang dari para korban. Kedua, Beberapa suporter Liverpool yang mabuk disebut mengencingi petugas kepolisian. Ketiga, Para fans Liverpool menghalang-halangi petugas untuk memberikan pertolongan pada korban yang berdesak-desakan di dalam stadion.

Pemberitaan itu tak ayal membuat suratkabar The Sun langsung diboikot oleh sebagian besar agen media cetak di Liverpool. Sampai saat ini, disebutkan tidak sedikit fans Liverpool yang masih anti dengan The Sun--kendati media itu sudah berusaha meminta maaf. Angka penjualan The Sun di Merseyside pun terbilang rendah.

Tampaknya luka yang ditorehkan oleh pemberitaan miring itu memang masih terlalu dalam, terlebih tragedi Hillsborough masih menyisakan tanda tanya.

Terkait dengan konklusi insiden itu sendiri, titik terang kini mulai muncul. Seperti dilansir Guardian, Jumat (15/4/2011), sebuah panel independen sedang memeriksa dokumen yang berhubungan dengan tragedi Hillsborough.

Disebutkan, Uskup dari Liverpool yang memimpin panel, James Jones, akan mengungkap "kebenaran penuh" setelah memperoleh informasi yang sebelumnya belum pernah dirilis.

Kenny Dalglish percaya bahwa keluarga dari 96 pendukung Liverpool yang meninggal di Hillsborough, akhirnya akan mendapat jawaban dan keadilan yang mereka cari sejak 1989 silam.

"Saya pikir (keadilan) itu semakin dekat dengan beberapa berita positif bagi keluarga, tetapi membutuhkan waktu lama untuk mencapai titik ini," ujar pelatih yang memiliki sebutan King Kenny itu.

Saat tragedi Hillsborough terjadi, Dalglish juga tengah menangani Liverpool. Saat itu ia, dan para pemain Liverpool ketika itu, memberikan simpati penuh kepada keluarga korban dengan menghadiri sejumlah besar pemakaman para korban.

Tindakan Dalglish menuai kekaguman dari banyak fans Liverpool--yang mana juga bertahan sampai saat ini saat ia didapuk kembali untuk menukangi klub itu.

Pada hari Jumat (15/4/2011) ini, Dalglish dan seluruh skuad Liverpool saat ini rencananya juga akan menghadiri upacara peringatan tahunan tragedi Hillsborough di Anfield.

"Saya tidak berpikir ada yang pernah melupakannya. Semua orang tahu betapa sulitnya bagi orang-orang yang kehilangan seseorang yang disayanginya di sana. Semakin cepat mereka mendapatkan keadilan bagi diri mereka sendiri, semakin bahagia mereka, dan kita semua akan turut berbahagia bagi mereka."

By.Adhie Ichsan - detiksport

Kamis, 14 April 2011

Mengenang 22 Tahun Tragedi Hillsborough

Mengenang 22 Tahun Tragedi Hillsborough 

Liverpool - Tepat 15 April, 22 tahun sebuah tragedi yang takkan pernah bisa dilupakan oleh Liverpool dan para fansnya. Di stadion bernama Hillsborough itulah 96 nyawa tak bersalah melayang begitu saja.

Para Liverpudlian mengenang tragedi itu dengan sebutan Tragedi Hillsborough di mana terjadi saat laga semifinal Piala FA antara The Reds dengan Nottingham Forest di markas Sheffield Wednesday itu.

Saat laga hendak dimulai, para suporter Liverpool yang jumlahnya besar berdesak-desakan di tribun dan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, pihak keamanan stadion pun membuka gerbang.

Namun yang terjadi malah sebaliknya, suporter yang tak mendapat tiket di luar stadion memaksa masuk dan itu berbarengan juga dengan para suporter Liverpool dari dalam stadion. Sehingga tragedia naas itu pun tak terelakan lagi dan akhirnya tumpahlah 94 korban di tempat.

Dua korban lagi yaitu bocah berusia 14 tahun bernama Nicol Lee meninggal empat hari sesudahnya di rumah sakit. Dan yang tergetir adalah ketika Tony Bland yang akhirnya harus menghembuskan nafas terakhir empat tahun sesudahnya usai berjuang hidup dengan life support.

Namun sampat saat ini duka dan sesal yang masih tersimpan di dada para pendukung Liverpool mengenai penyebab tragedi itu bisa terjadi. Banyak pihak yang menganggap kejadian tersebut karena sat itu banyak suporter Liverpool yang dalam pengaruh alkohol.

Tentu saja anggapan itu pun membuat para suporter Liverpool geram dan hingga kini tetap menuntut keadilan atas biang keladi peristiwa berdarah tersebut. Tragedi ini disebut sebagai salah satu yang paling naas di sepakbola setelah Tragedi Heysel tahun 1985 yang melibatkan Juventus dan juga Liverpool.

"Para pemain dan seluruh staff selalu mendukung keluarga korban karena ini adalah hari yang penting untuk klub ini,"

Hari ini, 22 tahun lalu 96 fans Liverpool tak akan pernah kembali ke rumah untuk bertemu keluarganya. Dan kalian semua tak pernah terlupakan sebab keadilan itu akan tetap dicari sampai kapan pun.

KOMODO NATIONAL PARK - WEST FLORES INDONESIA

KOMODO NATIONAL PARK - WEST FLORES INDONESIA